Minggu, 08 Januari 2017

Ulama Sesungguhnya

  Mr Admin       Minggu, 08 Januari 2017
"Ulamalah pelita diwaktu sangat gelap. Ulamalah penundjuk djalan di belukar hidup jang tak tentu arah. Ulamalah pemberontak kepada kekuasaan sewenang-wenang, melawan kezaliman dan aniaja." (Buya Hamka)
Ulama Sesungguhnya
BUYA HAMKA

Oleh: Andi Ryansyah*
“ADA ulama yang menentang Ahok. Tapi ada juga ulama yang bela Ahok. Yang bener yang mana nih?”
Mungkin ada yang bertanya begitu sekarang-sekarang ini. Mereka heran, kok sesama ulama berdebat. Mereka jadi bingung ulama mana yang harus diikuti. Bikin sedih memang.
Supaya enggak terus-terusan bingung, mari kita simak penuturan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, Buya Hamka, tentang siapa sih sebenarnya ulama sejati itu?
Dalam majalah Kementerian Agama yang bernama Mimbar Agama, edisi Maret-April 1951, Buya Hamka melukiskan sebagai berikut:
“Pemimpin agama, ulama, kijahi, lebai, adjengan! Itulah waris daripada Nabi-Nabi. Nabi jang tidak meninggalkan harta benda, tetapi meninggalkan pengadjaran dan tuntunan jang akan disampaikan kepada ummat manusia.
Ulamalah pelita diwaktu sangat gelap. Ulamalah penundjuk djalan di belukar hidup jang tak tentu arah. Ulamalah pemberontak kepada kekuasaan sewenang-wenang, melawan kezaliman dan aniaja. Kebesarannja terletak dalam djiwa, bukan dalam pakaiannja jang mentereng, baik djubah dan sorban, atau tasbih dan tongkat kebesaran. Karena kata hadits, ‘Allah tidaklah melihat kepada wadjah kamu dan bentuk tubuhmu, melainkan melihat kepada hatimu dan bekas amalmu.’”
“Sajangnja adalah karena Allah dan bentjinjapun karena Allah. Dari matanja memantjar tjahaja kejakinan dan iman. Mareka berani menjatakan kebenaran, menjaksikan kebenaran, memberikan nasehat, berdasar hukum jang diturunkan Tuhan. Tidak memutar-mutar, memusing-musing arti perintah Allah karena mengharapkan ridha dari kekuasaan manusia. Sekali-sekali tidak menjembunjikan kebenaran, padahal mareka telah tahu.”
“Mareka mulia dan bergengsi tinggi karena iman dan kepertjaannja. Kalimat Allahu Akbar, Allah Maha Besar, telah mempengaruhi kepada seluruh djalan hidupnja. Maka lantaran itu tidaklah pernah mareka merasa rendah diri terhadap kepada sesama machluk.
Bagaimanapun besar kekuasaan seseorang manusia dan megahnja, namun bagi ulama sudah ada ketetapan jang tetap. Kegagahan dan kekuasaan jang tidak berbatas, kalau hanja pada tangan manusia, tidaklah lebih dari Namrud dan Fir’aun, jang karena hendak mentjapai kedudukan jang bukan kedudukannja, djatuhnja ke bawah pun sangat terhentak dan lumat digilas roda zaman, mendjadi i’tibar dan pengadjaran kepada ummat jang datang di belakang.”
“Mareka kuat, karena mareka tidak pernah menadahkan tangannja kepada sesama machluk. Walaupun ada seorang Kepala Negara, baik bergelar Chalifah atau Sultan atau bergelar Presiden sekalipun, mareka mesti berhati-hati terhadap kepada kekuasaan ulama kepada djiwa ummat.
Maka oleh karena kuat teguhnja semangat ulama, kerap terdjadi Kepala-kepala negara itulah jang terpaksa mengambil muka kepada beliau. Sebab ulama sedjati itu tidaklah suka terikat oleh kemegahan nafsu dunia jang fana dan maja ini. Apa jang akan menarik mareka pada dunia ini? Datang ke dunia tidaklah berpakaian suatu apa, dan kembali ke achirat hanja dengan kain tiga lapis.
Sebab itu, maka perutnja tidaklah menguasai dadanja, dan kepalanja tidak berat jang menjebabkan timbul kantuk karena terlalu banjak memakan pemberian orang kaja atau orang berkuasa.”
“Mareka menempuh beribu matjam kesulitan dan mareka tahu akan kesulitan itu. Bilamana mareka telah tertegun melangkah karena sulit-rumitnja jang kan dilalui, tiba2 mareka bangun kembali, sebab terdenging pula kembali di telinga mareka, ‘Al-Ulama-u waratsatul anbiaa-i’, ulama adalah penjambut warisan Nabi. Lantaran suara itu, mareka pun berdjalan pula dan terus pula. Djalan itu berbahaja dan mareka tahu akan bahaja itu.
Diri mareka terantjam dengan berbagai antjaman, dan mareka insaf, akan antjaman itu. Tetapi mareka merasa bahwasanja tidak antjaman dan tidak bahaja di dalam hidup ini jang lebih besar daripada mengingkari perintah Allah dan menuruti perintah Sjaithan.
Maka ketjillah segala bahaja untuk diri, djika memikirkan bahaja kemurkaan Tuhan ini. Sebab itu bertambah teguhlah tekad mareka biar mati sjahid di dalam menegakkan kebenaran daripada tetap hidup di dalam kehinaan. Jang benar tetap benar, jang salah tetap salah. Agama Tuhan mesti tegak, benderannja mesti terkibar, ‘Tinggi dan tidak ada jang lebih tinggi daripadanja.’”
Sewaktu penutupan Musyawarah Nasional MUI pertama tanggal 27 Juli 1975, Buya Hamka juga menegaskan:
“Ulama sejati waratsatul anbiyaa (pewaris Nabi. Red) tidaklah dapat dibeli, janganlah tuan salah taksir. Dia telah menerima waris dari Nabi Muhammad s.a.w., yang seketika ditawarkan oleh orang Quraisy pangkat yang setinggi-tingginya, yaitu jadi Raja di tanah Makkah atau diberi harta benda yang cukup untuk modal perniagaannya, atau apa saja yang dia ingini, asal dia mau berkompromi dalam soal aqidah, atau mundur agak sedikit dari pendirian yang telah digariskan Than untuk dia, beliau telah menjawab: ‘Tidak! Bahkan walaupun tuan letakkan matahari dan bulan di kiri kananku, tidaklah aku akan berhenti dari usahaku ini sebelum Allah menentukan siapa diantara kita yang benar.’
“Tidak, saudara! ulama sejati tidaklah dapat dibeli, sebab sayang sekali ulama telah lama terjual, pembelinya ialah Allah: ‘Innallahasy-tara minal mu’minina anfusahum wa amwalahum bi anna lahumul jannah.’ ‘Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang yang beriman jiwa raganya dan harta bendanya, dan akan dibayar dengan Syurga.’
“Di keliling dirinya telah ditempelkan kertas putih bertulisan: ‘Telah terjual’. Barang yang telah terjual tidak dapat dijual dua kali!”
“Ulama yang sejati tidaklah akan dapat menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit (yastaruuna bi ayatil-lahi tsamanan qalila). Walaupun kekayaan dunia untuk pembeli ayat Allah dari seorang ulama seharga emas sebesar Pulau Jawa ini misalnya, itu pun masih qalila, masih sedikit.
Sebab Syurga yang telah dijanjikan Tuhan itu adalah ‘ardhuhassamawati wal ardhi (seluas seluruh langit dan bumi), ‘u’iddat lil muttaqin (yang disediakan buat orang-orang yang bertaqwa).” (Panji Masyarakat, 15 Agustus 1975).
So, bagaimana sekarang? Sudah jelas, kan, siapa ulama yang sesungguhnya? Sudah nggak bingung lagi, kan, harus ikut ulama yang mana?
Jadi, mau ikut ulama yang bela penista agama atau yang menentang penista agama?Anda terlalu besar untuk menjawabnya.*
*Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)
Rep: Admin Hidcom
Editor: Muhammad Abdus Syakur dikutip dari Hidayatullah.com
logoblog

Thanks for reading Ulama Sesungguhnya

Previous
« Prev Post
close

Tidak ada komentar:

Posting Komentar